Previous Posts

Archives

Links


Powered for Blogger
by Blogger templates

ma petite histoire

Friday, October 14, 2005
Robby Casteleyn, 2005

June 2004 sebenarnya awal perkenalanku dengan Robby. Ketika aku ke Belanda Agustus 2004, aku tak menyempatkan diriku bertemu dia, karena Robby sedang tak berada di Belgia, sedangkan aku sudah “dipesan” oleh Roland Grunvogel di Jerman.

Bahkan kunjunganku ke Belgia tahun ini,sebenarnya,sejujurnya sih,tidak untuk bertemu dia, tapi bertemu Michael, di Brussels. Tapi karena Michael tidak menawarkan akomodasi untukku, jadi coba kukontak Robby. Mengejutkan, karena Robby malah mengundang dengan antusias,alasannya karena dia mempunya rumah baru untuk dipamerkan. Itu terjadi sekitar awal agustus 2005.

Kebimbanganku bahkan berlanjut hingga beberapa hari sebelum aku meninggalkan Belanda pada 31 Agustus. 29 Agustus,aku masih sempat text Robby lagi,walaupun masih bimbang. Robby tak tampak tampan di profile-nya ( http://www.gaydar.nl/spikyhair ), itulah masalahnya, saking ragunya hingga aku memberi pernyataan bahwa kunjunganku ke rumah dia hanya bersifat kunjungan kawan, tidak mengandung unsur sex. Dan diapun rupanya memahami maksudku, so : no sex if not wanted.

Perjalananku lancar saja. Tiba cukup waktu di Amstel station Amsterdam, Eurolines berangkat tepat waktu, sampai di Brussels Noord tepat waktu,lalu langsung beli tiket ke Tielt. Melihat kembali stasiun kereta api belgia, betapa kotor dan suram-nya . Kesan itu terasa sekali, dibandingkan stasiun2 di Belanda yang selalu tampak bersih. Bahkan di Brussels Noord itu, escalator pun rusak. Hmm, bisa dibayangkan kalo bawa koper besar ke airport. Well, Belgie is geen Nederland.

Melewati kota2 kecil de Belgia, terasa lebih menawan daripada di Holland. Disini, landscape-nya lebih indah. Setelah 5 stasiun, sampailah di Tielt.















Tielt adalah kota kecil. Kecil sekali hingga stasiun kereta api itu Cuma satu bangunan kecil. Sampai disana, sambil berdebar menantikan seperti apa Robby, aku berjalan menuju bangunan utama. Menyebalkan, karena koperku rusak. Sambil menunggu, ku kotak-katik koperku, dan tiba2 terdengar bunyi kring sepeda.




Hmm…Robby. Seperti inilah dia, persis waktu menjemputku, dengan pakaian yang persis sama.








Rumah robby sebenarnya kecil, lebar depan cuma 3.5 meter, tapi memanjang ke belakang dan 3 lantai. Hmm,rumah mungil yang indah. Ruang makan dan ruang santai plus dapur di lantai bawah, dengan peralatan dapur yang mewah ( ternyata Robby suka memasak ). Lantai dua adalah ruang tidur tamu, plus kamar mandi yang luar biasa mewah ( ada sauna, shower yang canggih dengan semprotan air dari berbagai arah, dengan lantai kayu parquet,luas dan mewah ). Lantai atas ruang tidur, luass sekali. Yang aku suka dari kamar tidur Robby, pas diatas tempat tidur, atap-nya berupa kaca. Jadi , sambil tidur kita bisa melihat malam bertabur bintang.

Robby tipe yang banyak bicara. Semakin dia senang, semakin banyak bicaranya. Dari beberapa hal, dia mirip sekali dengan Angel. Aku rasa dia tipe suka membaca, dan hal2 yang bersifat spiritual. Dia suka memasak ( selama 2 hari disana, makananku sangat mewah, betul2 mewah dengan penataan sekelas restaurant di hotel bintang 5 ). Robby suka film2 Waltdisney. Hmm,apalagi ya…., Robby suka Arief..:-) Aku tau dari caranya melihat dan menyentuhku. Robby juga suka kejutan, dia membelikan aku koper Samsonite seharga 150 Euro. Kejutan yang menyenangkan ( dan kutunggu kejutan2 yang lain..:-)).

Sejenak beristirahat, Robby mengajakku berjalan2. Aku merasa suka sekali Tielt, karena Robby mempunyai banyak teman, dan kemanapun kita berjalan, Robby selalu disapa, dan dia selalu mengenalkanku. Tielt adalah kota kecil. Café yang paling ramai adalah Cirque Centraal.

Semakin lama kulihat Robby adalah sesosok anak muda yang tampan sekali. Tubuhnya memang sedikit chubby, tapi well-rounded, and cute bump and legs. Wajahnya, memang kuakui tak begitu tampan saat difoto, tapi saat itu yang kulihat didepan mataku adalah pemuda Belgia yang sangat tampan sekali.

Ciuman pertamaku adalah di suatu gereja di Tielt sore itu juga. Aku gila melihat bibirnya, yang begitu maniss sekali, seperti rasa gula caramel di Starbuck. Robby berpendapat, kalau berciuman pertama di gereja berarti percintaan yang bakal sangat sejati. Hmmm….Aku menikmati sekali tour itu, dan menikmati sekali memandangi Robby.

Dari sekian puluh jam bersama Robby, saat favoritku adalah ketika kita bersepeda di daerah pedesaan sore itu juga. Udara sore Summer yang sejuk dan hangat, jalan2 kecil naik turun, ladang2 jagung, rumah petani2 yang mungil2 dan bau kotoran sapi yang khas. Landscape daerah ini indah sekali. Berkali2 aku minta berhenti, untuk menikmati semua ini. Sejenak kita berhenti di wind-mill kecil dan tua diatas bukit.

Sore itu indah sekali. Yang paling tidak kulupakan, adalah ketika kita mendapati bukit yang sepi sekali,dengan rumput yang tebal, dan bunga2 musim panas yang lembut, dikelilingi pemandangan indah sekali, dan kita berbaring di rumput. Melihat Robby berbaring di rumput, tubuhku serasa panas sekali. Magnet itu terlalu berat untuk dilawan. Robby terlalu indah untuk tidak dibelai. Bibirnya terlalu manis untuk tidak dikulum. Seumur hidupku, aku tak pernah menikmati setting ciuman yang seindah dan sehebat ini. Sekeliling bukit itu, dipenuhi dengan kelinci2 liar yang berlarian. Menurutku mereka lucu sekali. Semenjak itu aku menjuluki Robby dengan konijntje ( = kelinci kecil ). Sore itu, Robby mengajakku untuk berkenalan dengan Rina, teman baiknya. Disinilah foto2 itu dibuat. Rina sendiri merupakan kasus yang menarik. Dia wanita belgia yang cantik dan sukses untuk ukuran usianya yang sekitar 40an. Yang menarik, suaminya memutuskan cerai dengan dia, setelah menikah 17 tahun dengan 3 anak dengan Rina, untuk menjadi homosexual bersama pria yang berumur 79 tahun yang menjadi tetangga mereka. Wow…aku sendiri terpaku mendengar cerita Rina ini.


Malam itu terasa indah sekali. Aku menikmati sekali cara Robby di tempat tidur, setelah malam2 sebelumnya aku menjadi budak sex-nya Nigel di Amsterdam.






Pertama-tama, dia burgs bbdrg kauttye nhfyft kkui kagstsr wwvgsr nnhgftd nhytdrtgf. Aaahhhhhh, jjnk csdsg hytre opyu nnvhcy gtrdsgf ssdert bfg bfgy nbbvhgy. Rasanya seperti, hhmm, kkloi mbnjb mmkiuhg mmkuyh. Melihat itu, jjkhu jfgfh bdgfh bsgdhf nnwer ttfhg ooklh loanvbh mnmngk. Gilaaa, hhgk gftdsr ookgh nngghy mmnhgf. Tempat tidur ini rasanya seperti jjhkn mmdhdt gadasw qsqewfer csfgdrdev vcggdfrd nnghyg nnvbfgf. Sekujur tubuhku seperti mmknj fdbfgv hhfyv hbfch bhfb hbdsu hhhyyud. Tak puas disitu, kkmj jjftfh bvgvh bbvhgf hhdy jjue rtryff yyrtgf uyyeir iigjfhf iiuyt iighdjfdy. Semakin mengejang rasanya, kkoiy ywere fdgdt hhgfb hhbhtyg kkjhu ookjy. Akhirnya, kkhjn vbbgftr dbdgdh fbfgfh kkiuthy kkiygh kkuhtf oodyth kjgyg jjdgdt.
Malam yang indah.

Keesokan harinya, perdebatan tentang kepulanganku. Robby memohon aku untuk stay another day. It was so difficult to say no. Kuputuskan stay another night.


Hari itu, program ke Brugge. Aku ingat 3 tahun lalu ketika pergi ke Brugge sendirian, ketika aku masih dengan Angel di Brussels. Sebagai ilustrasi, kupasang juga fotoku ketika ke Brugge 3 tahun lalu. Brugge tetap cantik dan indah dan romantis seperti dulu,
cuman kali lebih berkesan, karena bersama Robby. Yang menarik, di grote markt, ada konser gratis pelajar2 sekolah musik, dan kita menikmatinya sambil duduk di bawah dibawah sinar matahari yang hangat. Robby membeli satu CD klasik ( yang malamnya kita gunakan sebagai latar belakang musik saat kita bercinta terakhir kali ).
















Pulang ke Tielt, kita masih punya waktu untuk bersepeda. Kanegem adalah tujuan bersepada kita. Kota kecil, bahkan mungkin Cuma desa, tapi istimewanya kota ini seperti kota bunga. Semua rumah dihiasi bunga2 yang sangat indah sekali. Sebelum pulang kita menikmati ice-cream sebentar.

Robby pencemburu berat,dia juga menyatakannya dengan explicit. Dia menanyakan dengan siapa aku pernah dekat selama ini, kujawab dengan jujur. Sambutannya adalah muka dia yang masam. Hmm, susah juga anak ini. Pulang kerumah tanpa banyak bicara, suasana hati dia sudah berubah menjadi jelek. Sesampai dirumah, barusan selesai mengunci pintu,kuraih tangannya,kukulum bibirnya,kembalilah dia menjadi Robby-ku.

Sabtu, 3 September 2005, berakhir sudahlah dengan kelinci kecil-ku. Pagi itu, papa dan mama Robby datang, jadi sempat berkenalan.

Ekspresi Robby yang paling kusuka adalah sebagai berikut : berhadapan dengan ku, wajah agak menunduk tetapi mata memandang ke arahku dengan sayu dan memohon, dan mulut dan bibir bergerak-gerak seperti mau menangis. Kalo Robby sudah seperti ini, rasanya apapun akan kulakukan. Tapi saat ini benar2 tak bisa kupenuhi permohonannya untuk stay another night. Aku memang jahat dan suka mempermainkan orang. Sebenarnya aku ke Paris hari itu juga untuk berkencan dengan pria2 Paris yang lain. Aku menyesali keputusan ini dikemudian hari. Aku bahkan menyesali akan menghabiskan beberapa hari di Kualalumpur dan Bangkok. Aku bersedia membatalkan KL and Bangkok, dan tinggal di kota kecil Tielt bersama Robby, karena aku tak tau kapan lagi bisa melihat kelinci kecil-ku lagi. Perjalananku pulang dengan Malaysia Airlines dari Paris ke Kualalumpur 9 September, merupakan salah satu perjalananku yang sangat menyedihkan hatiku. Berapa puluh sms kukirim ke Robby saat di airport Charles deGaulle Paris, menyatakan betapa sedih hatiku sebentar lagi akan “dijauhkan” dari dia ribuan kilometer.

From Indonesia with deep love……………………
Nigel Webb, 2005

Mengagumkan, memahami bagaimana proses berjalannya takdir bagi dua orang untuk bertemu.

Itulah yang terjadi antara aku dan Nigel. Pagi itu, setelah 45 menit online dan merasa bosan sekali, dan tepat ketika akan offline datanglah message online dari Nigel dari gaydar. Bagaimana seandainya aku offline beberapa detik lebih awal. Atau, bagaimana seandainya aku tidak membawa laptop ke Belanda,sehingga aku tidak bisa online dengan mudah.

Date pertama dengan Nigel berjalan mulus, dan sedikit unik. Janji bertemu di café L’Opera, rembrandtplein, jam 5 sore. Berjalan menuju rembrandtplein, berpapasanlah aku dengan pria berumur 50an, looked so dashing on his expensive suit with Emporio Armani sunglasses on. Tampan sekali, keliatan sangat elegan, stylish, sedikit galak. Well…aku jadi membayangkan apakah Nigel bakal seperti pria yang baru aku jumpai.

Ternyata Nigel tampak mirip sekali dengan pria yang berpapasan denganku tadi. 100 % mirip, alias, pria yang berpapasan denganku tadi adalah ternyata Nigel.

Menggelikan………………

54 tahun, kebangsaan Inggris, mapan secara ekonomi, intelektual dan personality, membuatku sangat terpesona. Aku suka sekali berkencan dengan pria yang berpakaian rapi dengan setelan jas yang keren. Syukurlah, aku bertemu dia setelah meeting dengan INHOLLAND pagi itu, jadi akupun berpakaian kerja yang rapi. Hal ini membuatku merasa sejajar dengan dia.

Aku tidak berhubungan sex pada kencan pertama dengan pria yang memikat hati ku.

Demikianlah yang terjadi dengan Nigel. Pelukan dan ciuman sopan perpisahan cukup membuatku merinding membayangkan nikmatnya hari2 selanjutnya bersama dia.

Hari berikutnya, kupenuhi undangannya untuk bermalam. Almere buitenwijk. Malam yang mengesankan. Rumah yang mewah sekali, salah satu rumah mewah di belanda yang pernah aku masuki. Hmm…very very qualified candidate he is…J

Hal yang menggelikan lagi selama bersama Nigel. Suatu malam, kita merencanakan makan malam yang romantis, dan pergilah kita ke restaurant Sampurna, di bloemenmarkt. Rencana makan malam yang romantis, berubah menjadi dramatis, alias hancur, karena ada 3 anak Indonesia yang bekerja di restaurant itu, April, Tri Rahmi dan Dita. Walhasil, menjadi makan malam yang santun…..

Beberapa kali menginap di tempat Nigel, memberi perasaan yang agak lain pada kunjunganku ke Belanda kali ini. Biasanya aku pasti selalu pulang ke kamar yang disediakan INHOLLAND, tapi kali ini aku masih punya pilihan yang lebih baik untuk tinggal di tempat Nigel.
Miguel, 2005

Kadang sangat mengherankan, mengapa orang tampak begitu cute dan manis sekali.

Miguel ini contohnya.

Secara fisik, menurutku dia sangat manis. Dan secara personal, dia memang sangat manis. Belum pernah bertemu langsung memang, tetapi rasanya cowok satu ini sangat mengesankan. Chatting dan online dengan dia benar2 sangat tidak membosankan.
Sangat menyedihkan memang, disaat kita merasakan bahwa takdir kita adalah bersama dengan seseorang yang jauh sekali dan sangat sulit untuk bertemu. Mungkin jikalau lokasi kita tidak berjauhan, cowok montok satu ini mungkin sudah menjadi pasangan ku.
Tuesday, August 09, 2005
O sole mio

che bella cosa n'a iurnata 'e sole
n'aria serena dopo na tempesta
pe l'aria fresca pa regia na festa
che bella cosa n'a iurnata 'e sole

ma n'atu sole
chiu bella ohi me
o sole mio
sta fronte a te
o sole
o sole mio
sta frionte a te
sta fronte a te
santa lucia
sul mare luccica
l'astro d'argento
placida e l'onda
prospero il vento
venite all'argine
barchette mie
santa lucia
santa lucia

o dolce napoli
o suol beato
ove soridere
volle il creato
Saturday, July 30, 2005
Buongiorno Italia !!



Keterpesonaanku akan lagu-lagu Andrea Bocceli 6 bulan terakhir ini, sangat membangkitkan kenanganku akan Italia. Setiap lagu, setiap lyrics, setiap patah kata, seakan membawaku ke sudut-sudut Roma yang indah, harum, sejuk dan tak terlupakan.

Pagi itu 9 September 2002, dinihari sekali, gelap dan dingin, sekitar jam 4.50 pagi waktu Belanda, aku sudah harus bangun dan bersiap ke Airport. . Mengagumkan, betapa mudahnya kita terbangun dari tidur untuk suatu hal-hal yang begitu kita tunggu-tunggu. Dalam kasusku, pagi ini mungkin sudah kunantikan selama 5 tahun terakhir. Italia menungguku.

Selalu sedih, itu perasaan regular dan standard yang kurasakan saat meninggalkan Holland. Aku rasa, karena saat2 seperti ini, aku harus menempuh perjalanan sendiri. Kesendirian ini, kuakui sangat menyesakkan dadaku, mendesak seluruh kandungan air di tubuhku, hingga keluar di sudut2 mataku. Dan ini sangat berbeda dengan saat berangkat ke Belanda, karena selalu beramai-ramai dengan anak2 dan teman kerja, dan dalam suasana yang hillarious. Keterbalikan 180 derajad inilah, yang rasanya,hhmm, selalu menciutkan perasaanku. Menciut, bagaikan sebutir kacang tanah ditengah jalan raya.

Menyusuri jalan-jalan di Diemen, jam 4.50 pagi yang dingin, berangin dan keras,mencekam, terasa lain saat ini. Walau aku sebenarnya sudah terbiasa , jalan pulang sendiri di dini hari seperti ini, setelah menghabiskan waktu semalam suntuk di gay2 bar Amsterdam, tetapi tetap saja kali ini terasa berbeda. Terasa seperti suatu penghabisan. Pada dasarnya, penghabisan itu juga akan datang pada akhirnya.

Sampai juga di Schipol, tepat waktu. Ini adalah salah satu perjalananku yang very well planned, jadi tidak ada ketergesaan.Ini juga salah satu enaknya public transportation Belanda, sangat tepat waktu. Menyusuri jalan2 di Amsterdam di dini hari seperti ini, terasa lain, seperti melihat wajah Amsterdam dari sisi lain, sisi yang lebih manusiawi.

Jam 7 pagi pesawat lepas landas. So interesting, pesawat kecil, Embraer, tempat duduk 2-1. Sangat kecil, ramping, cantik, tapi juga kokoh dan kuat, bagaikan Lara Croft dalam film Tomb Raider. Melihat Swiss dari langit, juga seindah melihat lukisan2 indah di RijkMuseum Amsterdam, seperti melihat lagi film Sound of Music. Sebentar stop-over di Zurich, mengingatkan ku tahun 98, ketika stop-over di Zurich, dari Bangkok ke Amsterdam. Ganti pesawat lagi, Airbus, SwissAir, yang istimewa adalah, jok pesawat ini semua dari kulit, dan, 80 persen passenger-nya adalah orang-orang Italia. Keributan Italia, sudah terasa semenjak aku naik ke pesawat.

Lebih dari 3 jam perjalanan, akhirnya tiba juga di Fiumicino Airport Roma. Rasanya gak percaya akhirnya bisa menjejakkan kaki-indonesia-kecilku ini di negeri Italia. Sebagai homosexual sejati, tetep aja, yang sangat memikat mataku adalah ketampanan pria2 Italia. Begitu tampan dengan alisnya yang lebat, matanya yang tajam, bentuk rahangnya yang kuat, kulit yang tampak coklat sehat, dan gaya bahasa dan volume suara yang begitu khas. Tapi yang bikin aku kelenger, adalah wajah pria Italia yang selalu dihiasi bulu yang lebat, entah itu cambang, kumis, brewok sepanjang rahang..apalah namanya, so goatee. Mon Dieu, quel creation, begitu indahnya mahluk2 Romawi ini. Aku mungkin bisa duduk disini, seharian memandangi pria2 indah ini bersliweran.

Semua lancar, sampai aku di Termini Stazione. Hmm….ini tak seperti stasiun2 besar di kota2 besar Eropa Barat. Termini Stazione, rasanya gayanya lain, tak ada kubah baja raksasa khan stasiun Kereta-api Eropa. Stasiun ini, besar, tapi gayanya lain. Yang jelas, agak semrawut memang. Sejenak aku merasa merinding, karena aku benar2 sendiri di tempat asing ini. Tak seorangpun aku kenal di kota besar ini, yang kupegang hanyalah alamat hotelku, tiket pulang ke Indonesia dan sejumlah uang. Lucu juga, jalan pikiranku selalu sama ketika aku tiba-tiba merasa takut tersesat saat berjalan-jalan sendiri di kota-kota besar di Eropa : “ Arief, kalau ada apa2, pulang saja ke Amsterdam”. Hmm....Ik begin te voelen dat Holland mijn eigen huis is.

Hotelku dekat sekali dengan Termini Stazione. Sangat gampang sekali, karena sebelumnya aku sudah mempersiapkan dengan mempelajari baik2 peta yang kudownload dari internet. Dengan bawaan koper yang sengaja kuminimize sebanyak mungkin, aku bisa dengan gampang menemukan tempat yang kutuju. Dari Via Marsala, aku berbelok kearah Castro Pretorio. Ecco la !! Il mio Hotel !! Aku tak tau namanya. Aku harus share room dengan beberapa gadis Inggris, maklum pensione-hotel, jadi share kamar. Maunya sih ke Ritz Carlton Roma, tapi mending uangnya aku hemat aja J ( ceile……). Tak terlalu nyaman, tapi nyaman buat kantongku..:-)))

Dasar sudah secara genetic punya kelainan dengan punya penciuman tajam terhadap cowok ganteng, maka hidungku ini sudah kembang kempis mengendus ngendus kemana2. bagaikan mulut yang lapar, hidungku ini ibaratnya sudah berliur. Akhirnya kuputuskan kearah gereja Santa Maria Maggiore. Sesaat sampai didepan gereja ini, perasaan terpesona menguasai diriku. Indah sekali, dengan nuansa oranye, bangunan ini menjadi sangat oranye menyala saat tertimpa sinar matahari sore. Selanjutnya kuputuskan duduk2 sebentar sambil menikmati suasana sekitar. Walhasil , 5 menit setelah aku duduk, seorang pria Italia mendekatiku. Dengan bahasa inggris terpatah2, akhirnya kuputuskan berkomunikasi dalam bahasa perancis. Hehe….kadang aku bangga dengan diriku yang ternyata berbakat juga berkomunikasi dalam bahasa perancis. Gilanya..aku tiba2 ngerasa kalo bahasa Perancis adalah bahasa ibuku..!!
J) . Kembali ke kontex semula, pria berumur ini ternyata bernama Antonio. Hmm…un nomme molto italiano..:-)) Dengan bahasa perancis bergaya Italia, kita ngobrol banyak, tentang kehidupannya. Sesekali kupamerkan bahasa Italia ku, dan dia impressed juga. In the end of the conversation, dia beri nomor teleponnya. Dia menawarkan ku untuk mengunjunginya, dia juga berjanji memasakkan khas Italia, dan bahkan mengajakku berjalan2 dengan mobilnya. Hmm….ini sangat berat bagiku. Di satu sisi, aku waspada terhadap orang asing, namun di satu sisi, aku melihat dia sebagai orangtua yang kesepian, yang mungkin memang bener2 butuh teman. Akhirnya kuputuskan dengan mengiyakan. Wis…masalah ntar jadi telpon apa nggak dipikir belakangan !! . Setelah itu, karena hari masih terang, aku putuskan berjalan terus, kearah Colosseo. Hmm..seperti yang sudah kamu perkirakan, ini adalah salah satu pemandangan terdahsyat yang pernah ada dimuka bumi. Via dei Fori Imperiali adalah jalan sangat besar yang berakhir di Colosseo ini. Dari kejauhan 1 km pun, kita masih dicengangkan dengan pemandangan Colosseo ini. Setelah dekat, baru kita melihat betapa megahnya bangunan ini.

Colosseo merupakan peninggalan romawi, dan merupakan landmark Roma yang paling dikenal diseluruh penjuru dunia. Untuk masuk kedalam, harus membeli ticket, tapi kuputuskan untuk menikmatinya dari luar saja. Aku lebih suka menikmati sesuatu dengan pelan2, tidak tergesa-gesa.

Jalan2 hari itu, kututup dengan mencari hotel lain, karena ketidakpuasan dengan hotelku yang sekarang. Viale Pretoriano, disanalah kutemukan pensione yang akhirnya kuputuskan untuk kutinggali sampai kunjungan ku di Roma. Once again, salah satu alasanku pilih hotel ini, adalah petugas resepsion nya guanteng banget, gabungan antara Antonio Banderas, Andrea Bocceli, dan apapun lah. Il suo nomme e Mario, e molto bello. Senang rasanya bisa dapat hotel yang pantas, dengan croissant hangat dan lezat setiap pagi.

Foro Romano, ada lembah di tengah kota Roma, dengan reruntuhan masa romawi. Dari tepi jalan Via dei Fori Imperiali, bisa kulihat secara keseluruhan reruntuhan apa saja yang ada di lembah ini. Dengan membayar tiket masuk, engkau bisa masuk museum terbuka ini. Aku sengaja masuk ke tempat ini agak sore,supaya mendapatkan efek cahaya matahari terbaik, tapi ternyata aku mendapatkan efek spiritual yang terbaik juga, alias merinding setengah mati karena rasanya banyak roh2 yang tua sekali yang “menemaniku” menjelajah reruntuhan ini. Reruntuhan ini benar2 tua, abad 8 Masehi, bahkan mungkin lebih tua. Setua candi Borobudur !! Yang membedakan Roma dengan kota2 eropa lainnya, adalah reruntuhan kuil2 sepert ini tersebar di penjuru kota, dirawat dan diberi pencahayaan yang menawan sekali pada malam hari. Roma, una citta magnifica

Menikmati sore di Piazza Navona, salah satu berkah kehidupan yang luar biasa nikmat. Bangunan2 indah yang melingkari piazza ini, pelukis2 dan pematung, pemusik jalanan, Keindahan bangunan2 ini sangat menawan, ketika matahari sore yang ke-emasan menimpanya, dan membantu memancarkan kecantikan yang terdalam. Galeri-galeri seni yang mengelilingi piazza ini juga memberikan aura istimewa tempat ini. Dan..yang ternikmat, ice cream italia, il gelato italiano, che magnifico.

Paragraf ini kupersembahkan khusus bagi ice cream Italia. Aku heran, bagaimana orang Italia bisa bikin ice cream se-enak itu, sangat tebal, sangat kental, sangat lembut, sangat berlendir, sangat bervariasi, sangat lezat. Ice cream Italia mempunya variasi yang sangat banyak, baik warna, rasa maupun teksturnya. Ada warna kuning yang luar biasa kuning, ada warna ungu yang tak pernah kujumpai sebelumnya. Ada yang masih menunjukkan serpihan2 buah strawberry, atau buah peach. Semua bentuk, tekstur, aroma, warna, yang tak pernah kujumpai dimanapun aku berkunjung, bahkan tidak di ice cream seterkenal Haagen-daz.

Duduk di Piazza Venezia, sambil memandangi kemegahan monument Vittoriano sebagai latar belakang yang fantastis, adalah salah satu kenikmatan indera penglihatan yang tak terbandingkan. Monumen ini sangat megah luar biasa, dengan warna putih seperti awan, dengan banyak pilar2 raksasa, dan patung kuda Vittoriano di tengahnya. Sangatlah indah, apabila ditimpa matahari sore, dengan sudut yang memukau. Ditambah dengan padat nya lalu lintas khas Italia di depan monument ini, dengan bunyi klakson yang teramat ribut, sangat lah membuatku betah mengamatinya. Dan sebenarnya, memang kupandangi saja monument-ini, hingga matahari tenggelam, dan kutinggalkan dengan menumpang bis dari dekat situ.

Citta del vaticano. Ku dedikasikan seharian untuk mengunjungi kota termasyhur ini. Dengan menggunakan metro dari Termini Stazione, dan turun di Ottaviano. Stasiun ini ramai sekali,maklum yang terdekat ke Vatikan. Keluar dari metro,kuikuti saja arus kerumunan turis. Suasana sangat terasa beda akan quartier ini,dimana banyak pasukan berseragam tak lazim, yang memang merupakan tentara Vatikan. Ini mengingatkan ku akan tentara di keraton Yogyakarta. Untuk bangunan2nya,rasanya tak beda jauh dengan Roma Centro. Hal yang paling menakjubkan dari Vaticano, adalah saat engkau berada ditengah2 piaza San Pietro. Amat sangat maha dahsyat !!! bagaimana rasanya berada di tengah2 lapangan yang luass sekali, lalu dikelilingi pilar2 putih raksasa dikanan dan kirimu, dan engkau melihat bangunan gereja maha megah berada tepat di depan kamu. Bagiku, ini bagaikan suatu perlambang untuk universe. Keputusanku untuk memasuki gereja vatikan memang bukan sesuatu yang salah. Mengantri sedemikian panjang, bukan sesuatu yang kusesali. Apa yang kulihat di dalam, maupun dari atas kubah gereja, sesuatu yang tak pernah kualami sebelumnya. Dari dalam sendiri, gereja ini merupakan gereja terbesar yang pernah kulihat. Lukisan2 , di lantai, dinding maupun atap kubah, sangat menakjubkan. Begitu banyak seniman Italia yang bekerja untuk memperindah gereja ini. Sebagai bagian dari tour,semua pengunjung diberi kesempatan untuk menaiki tangga yang melingkari kubah gereja,hingga sampai atap gereja. Tangga yang kuikuti,benar2 panjang sekali, melingkari sepanjang kubah , kadang melewati lorong yang sangat sempit dan gelap yang hanya bisa dilalui dengan membungkuk-bungkuk ( kalau sudah begini,rasanya klaustrofobia-ku kambuh ). Aku ingat kejadian lucu. Ada beberapa gadis2 italia yang cekikikan,aku rasa membicarakan turis2 yang tingkahnya aneh2. Si gadis2 itu menirukan kata2 bahasa inggris, tapi dengan gaya Italia…seperti : yes, smallto..smallto..( maksudnya lorong-nya begitu small, tapi kata inggris ini di”Italia”kan dengan menambahi “to” ). Bagiku, itu lucu sekali, bagaimana orang Italia “memplesetkan” kata2 asing, seperti karakter bangsa kita. Well…akhirnya sampailah diatas kubah. Pemandangan sangatlah menakjubkan. Roma dari atas, seperti Paris dilihat dari menara Eiffel. Rasanya, ini seperti “orgasme” dari semua kunjunganku ke Italia. Puas menikmati semua yang ditawarkan Vaticano, kutelusuri Via del conciliazione. Ada toko souvenir bagus, kubeli beberapa benda. Akhir dari via del conciliazione, berjumpalah aku dengan Castel San Angelo.

Castel St Angelo, tak terlalu memikat buatku.
Hambar, pucat. Mungkin memang gaya-nya seperti itu. Dan tak ada pepohonan, membuat tempat itu sangat panas. Belakangan kuketahui, bahwa castel ini juga masuk dalam buku Davinci Code-nya Dan Brown. Dengan melewati ponte San Angelo,kututup kunjunganku hari itu di Vaticano.

Via del Corso, adalah tempat yang paling pas untuk melihat gaya orang Italia. Jalan ini penuh dengan toko2 keren disepanjangnya, dari toko baju murahan sampai butik2 Gianni Versace, Dolce Gabbana, semua ada. Yang paling banyak dijumpai adalah produk Ermenegildo Zegna. Aku tau itu produk bagus, tapi memang untuk pria mapan dan klasik, yang tentu saja bukan buatku ( karena aku adalah “wanita” mapan dan klasik !!:-) ). Jalan ini tertutup untuk kendaraan, jadi, bagaikan suatu panggung peragaan busana , jalan ini bagaikan suatu catwalk yang luas sekali, yang semakin mendorong orang untuk tampil gaya dan menarik perhatian. Kalau menilik jenis toko mayoritas, perasaan sih, toko yang terbanyak adalah untuk urusan fashion, entah itu sepatu, baju, kacamata, pokoknya produk yang berkaitan dengan itu. Aku tak punya minat khusus untuk membeli apapun produk fashion, karena menurutku, selera fashion Italiano terlalu klasik, seperti baju2 yang dijual di Marks& Spencer, “Mahal dan membosankan”. Pria Italia aku rasa tak terlalu mencolok dalam hal gaya, mereka cenderung sederhana, tapi tetep aja ganteng...:-). Cewek Italia yang aku rasa gaya sekali. Pokoknya gaya banget, jauh beda ama cewek2 Eropa lain. Postur badan cenderung lebih atletis, kulit lebih coklat sehat, raut muka lebih menantang, ekspresi lebih ceria, dan yang paling penting buatku : cara bicara dengan volume keras dan berintonasi khas Italia, itu yang sangat sexy. Bahasa Italia adalah bahasa yang sexy. Lucu juga, ada yang bilang : pakailah Bahasa Spanyol untuk berbicara dengan Tuhan, pakailah Bahasa Perancis untuk bicara dengan pria, pakailah Bahasa Italia untuk bicara dengan wanita, dan yang paling menyedihkan, pakailah Bahasa Jerman untuk bicara dengan kuda !!! :-) Hmm, kalau Bahasa Belanda untuk bicara dengan siapa ya ( atau “apa” ) ?? aku rasa dengan babi !!!:-)

Piazza del Popolo, merupakan ujung dari Via del Corso, adalah ruang terbuka khas Roma, dengan monument ditengah. Aku rasa piazza ini sebenarnya agak istimewa, karena sebenarnya piazza ini terletak pas ditepi bukit yang terjal sekali. Jadi, kalau dilihat dari jalan Via del Corso, kau akan lihat tembok tinggi disebelah sana. Setelah bosan berlama-lama di piazza ini, kuputuskan naik ke bukit itu. Rupanya ini memang hutan di kota, persis seperti Bois de Boulogne di Paris, atau Vondell Park di Amsterdam. Taman ini sangat luas, dengan banyak jalan setapak, banyak kios, banyak fountain, dan sejuk sekali. Sejenak aku nikmati keberadaan ku di Roma ini. Rasanya, bagiku, being in Rome adalah sesuatu yang besar sekali. Lama sekali kuterhanyut diatas sebuah bangku taman yang terpencil, jauh dari keramaian. Zzzttttt……..

Piazza de Quirinale, merupakan piazza yang sempit dan padat. Tapi, dengan pencahayaan yang indah, rasanya tetap mewakili keromantisan Roma. Hmmm..”keromantisan Roma”….aku suka sekali bunyi kalimat ini. Di piazza ini, bisa ditemukan Fashion café Roma, disinilah asal kaos Fashion café Roma-ku yang dengan bangga kupakai kemana-mana. Tak jauh dari sini, kutemui Fountain Trevi, yang termasyhur. Air mancur ini dikelilingi bangunan yang padat, jadi tidak di tempat yang terbuka. Tapi, walaupun padat, sangat penuh dengan toko2 souvenir dan toko2 barang antic, sangat nikmat untuk dijelajahi. Fontana di trevi sendiri sebenarnya mengagumkan, begitu indah patung2nya, dan airnya begitu biru, dan dasarnya begitu banyak uang koin, tapi kurang begitu bisa kunikmati, karena begitu banyaknya orang.

Napoli or Firenze ? Akhirnya kuputuskan Firenze, atas pertimbangan rute perjalanan yang akan melewati Toscana. As you know, Toscana sangatlah terkenal dengan landscapenya.

Duduk di kereta menuju Firenze sudah merupakan episode mengesankan tersendiri. Rasanya masih gak percaya sudah di Italia. Sangat lah mengesankan melihat countryside of Italia. Stasiun2 kereta api kecil di pedesaan yang sangat romatis, seakan2 dibawa kembali ke masa2 perang dunia I. Bukit2 khas Toscana dengan pohon pinusnya. Bau2-an yang memasuki hidungku, adalah bau2-an terharum yang pernah kuhirup. Tuhan, kapan lagi aku akan mendapatkan kenikmatan ini.

Santa Maria Novella, adalah kereta api utama. Sangat ramai, ribut, dan membingungkan, mengingatkanku akan kedatanganku pertama di Roma. Agak nekat memang, tapi kenyataannya memang aku belum memesan akomodasi di Firenze ini, makanya kuputuskan sampai di Firenze agak pagi, jadi cukup waktu untuk mencari akomodasi. Barang bawaan yang sedikit membuatku sangat leluasa untuk bergerak kemana-mana. Setelah makan sebentar di McDonald, kuputuskan mengambil Via Nazionale, karena tampak paling ramai. Beberapa saat jalan, akhirnya kudapatkan info akomodasi, dan terletak di Via Scala. Bagaimana aku menggambarkan akomodasi ini, seperti ini : bayangkan apartemen kumuh yang lama kosong, dan disulap seadanya untuk turis back-packer seperti hamba. What to complain ? however, I just need a bed to sleep. Setelah menaruh barang, aku mulai menjelajah kota.

Santa Maria Del Fiore. Tak pernah kujumpai gereja seindah ini. Bayangkan : gereja megah, dominasi warna pualam putih, dengan ukiran ornamen2 warna muda,oranye,hijau,biru muda. Hmmm….Heel echt bijzonder !!!! Dari dalam, gereja ini tak terlalu mengejutkan, tapi memang warna2 exterior-nya sangat mengejutkan. Gereja ini dikelilingi keramaian luarbiasa, baik toko maupun café/ristorante. Aku bisa bayangkan memang, betapa tak membosankan memandangi terus bangunan ini, sambil menikmati secangkir capucino italiano.

Mengunjungi pasar merupakan keasyikan tersendiri. Pasar di Firenze sebenarnya mewakili pasar2 di pusat2 Turisme Eropa. Yang paling menonjol adalah barang2 produk kulit : jaket, sepatu dan tas. Medici adalah brand yang paling banyak dipakai. Belakangan aku barusan tau, kalo medici adalah dinasti yang dulu menguasai Firenze. Barang2 ini, walaupun di pasar, sangat halus sekali, dan sangat mahal bow..:-) Bagus, karena bisa meredam keinginanku membelanjakan uangku.

Hal lain yang menonjol dari Firenze , adalah di piazza della stazione, pas di depan Santa Maria Novella stazione. Kalau sore, banyak sekali orang berkumpul di lapangan, berkelompok-kelompok, dan tampaknya sifat pertemuannya sangat santai. Dan tau mereka orang apa : sangat mirip dengan orang Indonesia. Hmm..aku pikir mereka pasti orang Filipina. Menyenangkan sekali, bisa melihat sisi yang lebih asia di salah satu kota di Eropa ini.

The next day,after breakfast, aku masih mempunyai jadwal yang padat di Firenze. Tujuan pertama, piazza Santa Maria Novella. Gereja Santa Maria Novella, tak begitu menonjol, tapi tetap cantik. Bagaikan Julianne Moore, tak menonjol, tapi tetap menawarkan kecantikan yang indah. Piazza yang paling penuh dengan kios2 souvenir, adalah piazza San Trinita dan Piazza Republica. Saking banyaknya kios, sampai rasanya gak akan puas menjelajahi semua kios2 ini.

Piazza della Signoria, agak istimewa, karena penuh dengan patung2, salah satunya David, karya Michaelangelo. Ada banyak patung memenuhi piazza ini, dengan beragam bentuk dan warna. Galleria degli Uffizi, juga merupakan bangunan yang indah, dan dipenuhi turis. Ini salah satu anomaly yang kualami selama di Italia : aku tak memasuki satu museum-pun. Alasannya hanya satu : terlalu banyak museum, semua sangat penting dan menarik, hingga tak tau aku mau masuk yang mana. Firenze dibelah satu sungai besar, Arno fiume. Tapi, bagian sungai yang paling indah dinikmati adalah dari Ponte Vecchio hingga Galleria degli Uffizi. Ponte Vecchio sendiri merupakan keunikan Firenze. Sebenarnya ini adalah jembatan untuk manusia dengan toko2 di kanan-kiri nya. Tapi begitu besarnya hingga bangunan nya sampai bertingkat. Toko2 disini adalah toko2 emas dan perhiasan terkemuka. Desain toko2 itu sangat mengagumkan, sangat kecil tapi sangat indah desainnya, belum lagi cara mereka menata perhiasan di etalase-nya.

Terus menyeberangi Ponte Vecchio, kujumpai Via Guicciardini, hingga mencapai Palazzo Pitti. Istana ini istimewa, dengan dominasi warna oranya kemerahan, sangat tak lazim juga untuk ukuran istana Eropa.

Giardino di Boboli, Firenze, di suatu pagi yang cerah di hari terakhir di Firenze. Langit begitu birunya, udara khas Mediterania yang sejuk , kering, harum, manis , taman khas gaya Italia klasik, dan pemandangan kota Firenze yang indah dari atas sini. Dari sekian banyak keindahan mata dan perasaan yang telah kunikmati, ini rasanya memberikan ikatan tersendiri dengan jiwaku. Setiap orang merasakan moment2 yang menakjubkan di hidupnya. Disinilah aku merasakannya, bahkan aku masih berusaha mengingat-ingat perasaan itu, mengabadikan perasaan itu, setiap menit dari hidupku dari saat itu sampai aku mati. Saat itu, kurasakan dorongan yang kuat sekali untuk hidup. Dorongan kuat untuk berhasil dalam hidup. Dorongan kuat untuk melakukan sesuatu yang besar dalam hidupku. Dorongan besar untuk produktif dan berkarya. Bagaikan mesin jet dari pesawat Boeing 747 yang sedang tinggal landas, kurasakan sekuat itulah doronganku. Kadang, kubayangkan juga dorongan ini bagaikan api yang berkobar-kobar. Bahkan aku merasakan bulu kudukku meremang merasakan gelombang dahsyat ini. Juga kurasakan rasa terimakasih yang besar untuk bisa berdiri disini, bisa “terdampar” disini, tempat yang sangat jauh dari tanah airku. Rasanya aku mengharapkan jam berhenti berdetak saat itu, hingga aku bisa disana sampai selama-lamanya, menikmati hentakan-hentakan jiwaku. Giardino di Boboli, aku akan menyapamu lagi kawanku, saat waktu membawaku kembali ke Italia.

Kembali ke Roma dari Firenze, merupakan “pemanasan” ku untuk kembali ke Indonesia dari Roma. Meninggalkan Roma, menuju Fiumicino Airport, sedih, tapi kumerasakan semangat dan enerji baru dalam hidup. Rasanya aku melihat segala sesuatu dengan cara yang lain. Malaysian Airlines tujuan KualaLumpur sudah menungguku.

Italia, kawan sejatiku

Italia, kawan hatiku

Italia, api hidupku

Italia, kawan yang telah kutunggu lama, tapi tak berjumpa juga.

Aku sedih harus meninggalkanmu

Aku benci mengapa engkau jauh

Aku benci mengapa engkau tak bisa ikut bersamaku

Aku benci mengapa aku tak bisa tinggal bersamamu

Aku akan menjumpaimu segera

Aku akan menulis surat untuk mu

Tunggulah aku

unfound jewel

Kadang aku merasa diriku bagaikan permata yang indah, barang berharga, yang masih tersimpan dan tersembunyi rapi di tempat yang rahasia. Dan seseorang disana, sedang mencari permata indah ini. Dia akan datang suatu hari nanti, membawanya dengan hati2, dan merawatnya dengan penuh kasih saying.

Unfound jewel…..

poignant Rwanda

Tahun 1994, di Rwanda, dalam 3 bulan , 800.000 orang mati di bantai. Sangat menyedihkan, terutama mengingat Rwanda adalah salah satu Negara afrika yang mempunyai alam yang subur. Alam yang begitu hijau yang tampaknya begitu memenuhi kebutuhan pangan penduduknya. Negara2 lain di benua Afrika boleh kelaparan, tapi rasanya Rwanda tak akan. Sangat tragis, bahwa pada akhirnya, banyak penduduknya yang mati, bukan karena alam, tapi karena manusia. Aku rasa, ini mungkin termasuk cara alam menyeimbangkan dirinya.

Friday, July 29, 2005
Paris Hilton VS Inul Daratista

Aku rasa ada kemiripan wajah antara Inul Daratista dan Paris Hilton. Coba, suruh Paris Hilton makan agak banyak dikit, pake baju yang bermote-mote, dan suruh dia goyang ngebor, pasti mirip Inul. Sebaliknya, suruh Inul kurusan dikit, pake baju yang biasa dikit dan elegant, dan suruh dia datang ke pesta2 mewah dan melambaikan tangan gaya Miss Universe, pasti dah mirip Paris Hilton.

resep mendapatkan perasaan muda kembali..

Cukurlah jembut mu sebersih bersihnya. Bagi yang gak tau jembut, itu adalah rambut yang selalu keriting,meskipun rambut di kepala kamu lurus. Genital yang tak tertutupi jembut, ternyata mempengaruhi perasaan secara signifikan, menjadikan kita merasa muda dan innocent lagi, seakan akan kita bisa lagi berhujan2 di jalan depan rumah kita dengan bertelanjang bulat, atau mungkin mandi di pekarangan belakang rumah dengan telanjang bulat. Selain itu, jembut yang bersih, memberikan efek penis ( bahasa latin : kontol ) yang besar dan bertenaga, buat cowok tentunya.

Homosexuality

Homosexualitas sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang hina. Tapi sebagian besar penganut homosexualitas membuat diri mereka sendiri hina.

Alasan :

  1. mereka selalu menilai seorang dari sisi daya tarik sexual-nya. Paling tidak pertama kali. Orang berotak se-encer Habibie pun tak akan pernah dianggap menarik. Mereka akan cenderung gampang berteman dengan orang2 yang secara fisik menarik, dan cenderung tidak berteman dengan orang2 yang secara fisik tidak menarik.
  2. mereka akan meninggalkan pekerjaan apapun seketika , disaat mereka melihat seorang pria yang menarik. Seorang dokter bedah, mungkin akan langsung segera meninggalkan pasien yang perutnya sudah dibuka, hanya untuk mengejar pria tampan yang melintas diruang bedah.
  3. mereka menilai “kecantikan” seorang pria hanya dari sisi fisiknya saja, baik wajah ataupun bentuk badan. Mereka pasti akan bersaing keras untuk mendapatkan kecantikan yang sangat superficial ini.
  4. mereka berlaku tak senonoh ditempat umum, disaat mereka melihat/menjumpai pria yang menarik. Seorang bapak2 gay yang memakai dasi,jas dan tampil berwibawa, pasti akan salah tingkah dan bertindak seperti kucing kesiram air apabila dia melihat pria menarik didepannya.
  5. seorang gay “yang baik”, akan selalu berdandan , mempercantik diri dan berburu pria tampan semur hidupnya. Ini yang membuat mereka tidak berpikir, bahwa ada banyak hal2 positive yang bisa dicapai di hidup ini selain hal2 tersebut diatas.

Homosexualitas sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang hina. Tapi sebagian besar penganut homosexualitas membuat diri mereka sendiri hina.

Homosexuality

Homosexualitas sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang hina. Tapi sebagian besar penganut homosexualitas membuat diri mereka sendiri hina.

Alasan :

  1. mereka selalu menilai seorang dari sisi daya tarik sexual-nya. Paling tidak pertama kali. Orang berotak se-encer Habibie pun tak akan pernah dianggap menarik. Mereka akan cenderung gampang berteman dengan orang2 yang secara fisik menarik, dan cenderung tidak berteman dengan orang2 yang secara fisik tidak menarik.
  2. mereka akan meninggalkan pekerjaan apapun seketika , disaat mereka melihat seorang pria yang menarik. Seorang dokter bedah, mungkin akan langsung segera meninggalkan pasien yang perutnya sudah dibuka, hanya untuk mengejar pria tampan yang melintas diruang bedah.
  3. mereka menilai “kecantikan” seorang pria hanya dari sisi fisiknya saja, baik wajah ataupun bentuk badan. Mereka pasti akan bersaing keras untuk mendapatkan kecantikan yang sangat superficial ini.
  4. mereka berlaku tak senonoh ditempat umum, disaat mereka melihat/menjumpai pria yang menarik. Seorang bapak2 gay yang memakai dasi,jas dan tampil berwibawa, pasti akan salah tingkah dan bertindak seperti kucing kesiram air apabila dia melihat pria menarik didepannya.
  5. seorang gay “yang baik”, akan selalu berdandan , mempercantik diri dan berburu pria tampan semur hidupnya. Ini yang membuat mereka tidak berpikir, bahwa ada banyak hal2 positive yang bisa dicapai di hidup ini selain hal2 tersebut diatas.

Homosexualitas sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang hina. Tapi sebagian besar penganut homosexualitas membuat diri mereka sendiri hina.

Kebahagiaan sejati dalam hidup

Bagiku, kebahagian sejati dalam hidup adalah tinggal dan mempunyai appartement mewah di kota Roma, tepat menghadap monument Vittoriano. Dan memiliki pacar seperti Ben Afflect yang selalu menemanimu. Hmm..aku gak peduli dia barang bekas pakai mbak Lopez dan mbak Garner..:-))

“List Rasa Syukur pada Tuhan” ku yang semakin panjang

Melihat kembali film Schindler’s list , The pianist-nya Roman Polanski, film Hotel Rwanda , membaca buku sastrawan Rusia Solzhenitsyn “Gulag” tentang pembantaian di kamp2 konsentrasi di Rusia , membaca buku Hansel and Gretel versi asli, melihat betapa manusia sebenarnya bisa berlaku lebih rendah dan lebih nista daripada hewan terendah dan ternista yang pernah ada dimuka bumi. Bagiku, Manusia sebenarnya adalah monster “tercantik“ dimuka bumi. Dan manusia selalu bisa menciptakan “definisi” kekejaman dan kenistaan , dan selalu merevisi definisi itu, membuatnya semakin “baik” dari masa ke masa.

Bagiku, film-film itu adalah film paling horror yang pernah kutonton, horror yang paling nyata, mungkin juga film horror yang pernah ada sepanjang sejarah. Betapa luarbiasanya dan begitu absurd penderitaan orang2 Yahudi itu, sampai orang2 yang sepertiku, yang terpisah jauh sekali secara dimensi waktu, geografis dan genetic, masih bisa merasakan kepedihan jauh didalam daging tubuh kita sendiri. Betapa tak tertahankannya. Aku tak bisa membayangkan, Tuhan bisa menciptakan rasa sakit dan pedih sedemikian dalam.

Aku tak mengerti, dan tak akan pernah bisa mengerti, mengapa orang bisa begitu membenci orang2 dari suku lain , dan melampiaskan kebencian itu dengan cara2 yang jauh melebihi nilai kebencian itu sendiri.

Kembali ke aku, betapa beruntungnya, jika mengingat apa,siapa dan bagaimana aku sekarang, dibandingkan orang2 pada masa itu, atau anak2 yang terlahir pada masa itu. Aku harus menambahkan jenis rasa syukur ini pada List Rasa Syukurku Pada Tuhan, yang sebenarnya sudah begitu panjang. Aku, kamu, atau siapa saja, atas kehendak Tuhan, bisa saja terlahir pada tahun2 itu, aku bisa saja terlahir di Eropa, aku bisa saja terlahir di sebuah keluarga Yahudi. Aku bisa saja menjadi anak2 Yahudi yang hidup di kamp2 penyiksaan, melihat penyiksaan dan pembantaian setiap hari, bersembunyi di gorong2, memakan apapun yang ada karena tak punya pilihan, melihat orantuaku dibantai didepan mataku. Tapi Tuhan memilih orang lain, bukan kita, untuk lahir disana, dan menerima kutukan dahsyat itu. Sukurilah Arif, untuk “tidak terpilih”. Namun, aku bisa saja sudah “ terpilih”. Atau aku, ….mungkin…., “terpilih” nantinya, untuk suatu horror yang lain. Oh Arief, semoga tidak.

Bahkan aku bisa bayangkan cerita2 ibuku pada masa2 perang itu, dimana ibuku bersama2 dengan saudara2 kandungnya, dengan membawa barang seadanya, harus mengungsi, menyelamatkan diri dari bombardier tentara Jepang, dan…….. menyelamatkan benih diriku juga sebenarnya. Kisah2 perang semacam itu, memang kadang banyak sekali nilai2 kemanusiaan yang bisa diteladani.

Membaca dua buku yang kusebut diatas, sebenarnya membuatku melihat kemasa depan. Horror itu mungkin masih juga akan terjadi. Kemajuan peradaban sedahsyat ini yang bukan merupakan kemajuan “perkemanusiaan “, tak menjamin horror semacam itu tak terulang. Lihat saja genocide di Bosnia, di Rwanda, bahkan di Indonesia ( suku Dayak terhadap orang2 Madura ).

Monday, February 14, 2005
Gerimis, warung Made dan Benny

Sabtu, 12 February 2005, 15.30, Kuta Bali.

Gerimis terus turun. Ini adalah cuaca yang paling tidak favorit untuk tempat seperti Bali. Karena, di cuaca seperti ini, rasanya gak bisa apa2, gak bisa body board di pantai, juga tak bisa jalan2. Karena duduk saja di kamar bukanlah aku, dan body board sangat tidak mungkin, jadi aku jalan2 aja di kuta square. Aku mau cari oleh2 buat semua orang kantor, tapi kok ya sulit juga nemu ya. Aku menemukan sesuatu memang, tapi buat aku sendiri..:-)) ini adalah salah satu karunia tuhan terhadap kelebihan2 ku : “selalu bisa menyenangkan diri di tengah kesengsaraan orang lain”…..

Tau apa yang kutemukan : kaos funky bergaya India. Hmm….saya suka sekali segala sesuatu yang berbau India, begitu khas, begitu tak tertandingi.

Kemarin malam makan di warung Made, sendiri. Aku rasa harga makanan terlalu mahal untuk kualitas segitu. Aku pesan nasi goreng khas Warung Made. Tak terlalu istimewa untuk ukuranku. Aku rasa harga yang pantas untuk sepiring omongkosong itu, semahal mahalnya seharusnya Cuma 17.000 – 20.000 IDR. Tapi mereka pasang harga : 32.000 IDR. So guys, I don’t recommend this site at all. Ada segerombol anak muda, usia 22 – 28 tahun-an, di 2 meja sebelah. Aku tak tau, dari aku duduk sampai mau pulang, mereka terus bisik2 sambil ngeliatin ke aku. Aku rasa karena mereka mengira aku artis dari Jakarta. Biasa, dengan gayaku pake topi pet yang menutup hampir 80% wajahku, sangat lazim aku disangka orang terkenal yang sedang undercovered. Selain itu, aku juga ngerasa tongkrongan badanku juga cukup lumayan, maka, aku sudah terbiasa dengan hal2 seperti ini. Merasa diatas awan, waktu aku mau pulang dan melewati meja anak2 muda yang mengira aku artis, dengan pede nya, aku mengembangkan senyum selebrity-ku dan melambaikan tanganku ke mereka. Hehe..mereka balas juga, terutama cewek2nya yang manis2 itu. Hmm..kasian juga, cantik2 tapi tolol L, kena perangkapku.

“hello Sir..One dollar Sir “. “ hello Sir...where are you from ?”. Itu termasuk sapaan yang cukup sering aku dapat dari para penjaja apapun di jalanan kuta. Sekali lagi, mungkin karena topiku yang menutup muka, aku hampir tak tampak sebagai orang local. Mungkin aku juga dikira tanned Jepang, atau apapun dah. Ake geli sendiri kadang, dan kutunjukkan kegelianku di hadapan mereka dengan senyum lebar di depan mereka. Biar mereka mengartikan sendiri arti senyumanku.

Kemarin malam di Kudos. Benny, secara mengagetkan datang dan langsung menyapaku. Seneng juga dapat teman, apalagi dia ngenalin ke temen2 lain, jadi rasanya lebih enakan aja. Tapi tetep, aku mau mereka hanyalah teman, bukan untuk sex. 2 hari ini, hasil buruanku kurang memuaskan. Hewan2 buruan ini hanyalah hewan2 kelas 2 atau 3

Friday, February 11, 2005
3.230.000 daging segar di Jakarta

Ternyata Jakarta itu penuh pria keren, apalagi pas jam makan siang. Penduduk Jakarta adalah 10 juta jiwa. 5.540.000 nya adalah berkelamin pria. Dari keseluruhan jumlah pria ini, 3.230.000 adalah usia 25 – 45 tahun. Fokus kita ke golongan usia ini, karena kelompok usia yang paling sedap dipandang mata. Jadi, bisa dibayangkan, ada 3.230.000 daging segar siap santap berserakan di seluruh pelosok Jakarta !! Hm, terusterang, rasanya aku tak akan kuat tinggal dan bekerja di Jakarta.

Kusnadi Hotel, Tilburg dan mas Ketut

Rasanya tak salah aku pindah ke hotel kecil nan artistic ini. Malam yang cerah ini, duduk sendiri di tepi kolam renang yang indah, sunyi senyap hanya gemericik kecil air kolam, dengan pencahayaan yang syahdu, dikelilingi taman indah gaya bali alami, rasanya tak mungkin ada yang lebih indah dari ini. Aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk menikmati saat2 seperti ini. Aku tau, masih banyak orang yang tidak punya kesempatan dan kemampuan untuk menikmati keindahan2 seperti ini. Atau, ada orang yang punya kesempatan, tapi tak bisa menikmati keindahan2 seperti ini. Sayangnya, hotel ini kok namanya Kusnadi Hotel , kok ya bukan nama2 seperti “sanctuary”, ”pristine”, ”tranquility” atau sejenisnya. Apa yang punya masih ada hubungannya dengan mbak Maudy Kusnadi ya...( eh..atau Maudy Kusnaedi ?)


Musik klasik juga menemaniku saat ini.


Menikmati musik klasik seperti ini rasanya aku kembali ke beberapa tahun lampau, saat tinggal di Tilburg. Salah satu kesenanganku adalah bersepeda di hutan dekat kampus, sambil mendengarkan musik klasik dengan walkman yang kubeli dari toko diskon di centrum. Aku ingat betul, betapa aku masih belum percaya bahwa aku akhirnya kesampaian juga menjejakkan kakiku di benua Eropa. Kadang aku bersepada sampai jauh ke pelosok hutan itu. Bagiku, itu adalah suatu perasaan yang fantastis, untuk bisa berada dan bersentuhan langsung dengan alam di benua ini. Aku ingat, beberapa tahun kemudian aku berjalan2 dengan tante marij ke hutan yang sama, dan hebatnya, aku masih punya perasaan yang sama. Tilburg, kenanganku,buku diaryku yang paling tebal,salah satu episode hidupku yang paling favorit., harta karunku yang tak tergantikan.


Tadi aku bermain surfing. 2 jam, cukup. Ternyata sangat melelahkan juga. Paling terasa ini kaki. Tau kenapa ? karena ternyata tanpa disadari, aku berjalan melawan ombak banyak kali, untuk menuju ke tengah, untuk dapet ombak besar. Kadang ngeri juga, kalo tiba2 tak disadari sudah ditengah laut, tapi tak bisa kembali ke tepi. Hmmm….ngeri2 enak..tau enaknya apa ?? karena khan aku bisa minta tolong mas2 baywatch itu, yang badannya kekar2 dan cawatnya minim2 !! Mungkin, aku berteriak2 minta tolong, dan kalo bisa milih yang paling OK, taruhlah mas Ketut. Jadi, aku teriak sekeras2 nya mas ketuuuuuuutttt ……….:-)) Lalu ketika ditolong, aku akan memeluk tubuhnya erat2, sambil menggerayangi bagian2 yang extra…lalu mungkin aku pura2 mati lemas, dan mas Ketut memberikan nafas buatan..:-)) mungkin aku pura2 mati yang lama, biar proses pertolongan pernafasan buatan bisa lama..:-)) rusak pek !! wis ah…....
Thursday, February 10, 2005
sore di pantai kuta…

Sekarang jam 16.00.....

Aku duduk di sebuah café yang tenang, menghadap pantai kuta, sambil melihat matahari tenggelam. Dan menikmati tubuh2 indah yang ada di depan mataku..:-))


Rasanya senang sekali bisa kembali ke Bali. Sudah seminggu lebih aku kerja keras ngumpulin student, rasanya ini kado yang pantas buatku. Hmm…sebenarnya ini lebih keren lagi, karena aku tak perlu keluar uang untuk kenikmatan ini. Jadi, kenikmatan ini rasanya bisa dua kali lipat.


Tadi aku berenang sebentar di pantai. Mau main boarding, tapi gak jadi, karena ombaknya terlalu kecil. So, aku nyemplung2 aja. It dawned on me, betapa air laut yang sedang kunikmati saat ini adalah juga air laut yang membunuh +/- 110.000 orang di Aceh. Samudra yang aku ajak main saat ini adalah juga samudra yang menghabisi +/- 300.000 orang se asia selatan. Ngeri juga si. Tapi aku rasa, alam memang punya cara tersendiri untuk menyeimbangkan dirinya. Masalahnya, aku tidak mau jadi object penderita dari proses penyeimbangan diri alam ini…


Kamu tau, aku rasa, kalo aku punya uang banyak, aku akan belikan kolor untuk surfer2 bali itu, biar celananya gak mlorot semua, sampai ass-slit nya keliatan !! jijik banget !!


Lucu juga, tadi barusan melintas, perempuan Caucasian yang sedang jogging. Aku melihat orang ini sebulan lalu, sorean gini, sedang jogging juga. Hmm…quite interesting juga. Apa dia tinggal disini ?? apa sudah pulang dan sedang balik sini lagi seperti aku ?? Kalo memang stay sebulan lebih di Bali….alamak…enak sekalee gitu looh !!!


Malam ini, sampai 3 malam kedepan, aku akan menghabiskan waktuku di gay bar di Kuta. Ada 2 sih yang keren, Kudos dan Q bar. Targetku : bule ganteng gagah kaya dan stay di hotel bintang 5. Meleset : pribumi, gagah, gak ganteng dan gak kaya gak papa.
Costum yang kusiapkan : malam ini gaya militar, besok gaya orang kantoran, lusa sexy style.
Kondom : 6 buah minimum, 3 buah cadangan. Pelicin : 1 botol besar pelicin, plus beberapa botol kecil.

Aku sukaaa banget duduk di pantai, pas matahari kemerahan, akan tenggelam...and the dusk is falling. Bagiku, itu adalah perasaan yang luar biasa. Begitu juga sama luar biasanya ketika aku naik pesawat dan pas diatas awan dan sinar matahari sore menyinari gumpalan awan2 putih. Pemandangan terindah diatas pesawat, adalah ketika aku terbang pulang dari Hongkong ke Surabayadengan Cathay Pacific, bulan September 2002. Rasanya seperti sedang terbang diatas hutan awan, atau diatas kota awan. Yang paling indah adalah saat awan2 tersebut tertimpa sinar sore matahari yang coklat oranye keemasan.